Senin, 11 Juli 2011

RUMUS CINTA



Suami Memanjakan Istri, Istri Menghormati Suami

Wanita, bagiamanapun hebatnya, bagaimanpun dewasanya, bagaimanapun sucinya, mereka tetapalah wanita yang mempunyai kodrat kewanitaan. Wanita mempunyai kepribadian lemah, lembut, gemulai, feminis, dan segudang sifat indah lainnya, yang menjadikan wanita menjadi lebih sempurna. Sifat-sifat tersebut pada giliranya akan mempengaruhi cara berfikir mereka, cara mereka mengutarakan sesuatu, dan tentunya juga cara menyukai sesuatu. Karena itu, para suami harus mengerti, siapapun wanitanya, dari manapun asalnya, setinggi apapun pangkatnya, dan berapapun jumlahnya, asalkan dia tetap wanita, maka dia pasti senang bila mereka mendapat perhatian dengan cara dimanja.

Kaum wanita rata-rata tidak menyukai jika terlalu dianggap dewasa oleh suaminya. Mereka lebih suka diperlakukan layaknya anak-anak. Entah dibelai, dielus, digodain, dan hal-hal lain yang bersifat memanjakan. Oleh karena itu, para suami hendaknya selalu memanjakan istri. Jangan hanya saat pacaran, tapi setelah pernikahan juga. Karena para wanita selalu mengharap untuk kembali dalam indahnya cinta yang bersemi dahulu kala. Para suami yang mengerti akan hal ini, bisa menjadikan pernikahanya lebih indah daripada masa-masa pacaran.

Sedangkan kewajiban seorang wanita yang telah berstatus istri adalah patuh dan taat kepada suaminya. Kesetiaan istri kepada suaminya lebih diutamakan daripada keluarga terdekatnya sendiri. Nabi Saw bersabda:

لَوْكُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْاَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Jika aku (Nabi Saw) berwenang memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, tentu aku akan menyuruh istri sujud kepada suaminya”. (HR. at-Tirmidzi).



Istri hendaklah mematuhi perintah sang suami selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Andaikan suami menyuruh melakukan dosa, maka istri dibenarkan membantah. Hal ini bedasarkan sabda Nabi Saw:

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَّةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوْفِ

“Tidak ada ketaatan untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Sesungguhnya ketaatan hanya kepada hal-hal yang ma'ruf”. (HR. Bukhori).



Dari paparan hadits di atas, dapat kita pahami bahwa istri harus menghormati suaminya. Karena suami yang dihormati istrinya dengan sempurna, akan terdorong untuk membuktikan rasa cinta dan kasih sayangnya terhadap sang istri. Sebab dia telah mendapatkan haknya sebagai suami. Para suami yang berakal sehat tidak akan menilai istrinya sebagai wanita salehah, jika dia tidak menghilangkan sifat ingin mengungguli suaminya. Karena sejauh pengamatan kami, masih banyak wanita yang gengsi untuk mengalah dari suaminya.

Alhasil, sebagai pasangan yang baik, suami-istri harus tahu posisi masing-masing, dan membuktikan dengan sikap dan prilaku setiap hari. Jika hal ini dapat dilakukan, maka dapat dipastikan tidak akan terjadi perselingkuhan apalagi perceraian.

SEMOGA ILMU GUA BERMANFAAT BAGI PARA PEMBACA,
HEHE.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar